Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan
kesempatan untuk mengunjungi sebuah toko buku kenamaan di Jakarta. Dari susunan
rak tersebut, saya melihat ada satu buku yang berjudul PENGAKUAN ALGOJO TAHUN
1965 karya TEMPO. Buku itu memang sudah lama saya incar dan baru pada saat itu
saya dapat membelinya.
Pada saat membaca lembar-lembar pertama di buku
tersebut, diceritakan kondisi kehidupan masyarakat di tahun 1965-1966 yang
sangat mencekam itu. Teror, pembunuhan, penyiksaan, nampaknya menjadi hal yang
sangat wajar terjadi dalam masa itu. Seruan dari Soeharto untuk menumpas PKI
hingga akar-akarnya menjadi legitimasi bagi para pembenci paham komunisme,
orang-orang komunis, dan bahkan pembalas dendam, untuk melampiaskan kebencan
mereka. Ya, banyak dari korban yang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali
dengan PKI, ideologi, ataupun organisasi di bawah PKI yang menjadi korban dalam
tragedi 1965 tersebut. Alangkah kagetnya ketika saya membaca sebuah pernyataan
bahwa pembunuhan besar-besaran terjadi di Kediri, kota tempat bapak saya
menghabiskan masa kecilnya. Pada peristiwa tersebut, bapak saya berusia 10
tahun. Masih sangat kecil untuk hidup dalam situasi yang sangat mencekam itu
namun sudah cukup besar untuk memahami adanya kematian dan kehilangan
orang-orang di sekitarnya. Sudut pandang
ini yang menarik bagi saya. Bagaimana seorang anak kecil berusia 10 tahun dapat
tumbuh dalam lingkungan seperti itu? Apakah ada trauma? apakah salah satu
anggota keluarga menjadi korban? Atau justru menjadi penjagal yang tetap dapat
tertawa setelah membunuh dan menyiksa korbannya?
Saya pun mulai bertanya pada bapak saya. Beliau
mengaku tidak banyak hal yang terjadi pada keluarga pada saat itu. Bapak saya
mengaku hanya sering kelilingdi malam hari untuk mendapatkan makanan yang disediakan
bagi penjaga yang ada di sekitar kampung. Maklum, pada zaman itu makanan sangat
sulit diperoleh, apalagi oleh keluarga sederhana di pelosok desa. Namun, ada
satu peristiwa yang cukup mencekam. Pada saat itu, Bude saya sedang melakukan
upacara pernikahan. Keluarga belum banyak mengetahui adanya peritstiwa G30S dan
penumpasan anggota/simpatisan PKI. Tiba-tiba, rombongan banser datang ke rumah bapak
saya. Sebelumnya mereka telah membakar rumah tetangga dan hendak membakar rumah
bapak saya pula. Untung saja pada saat itu, Pakde datang dan mencoba
menenangkan para banser. Beliau dibantu para anggota PNI yang juga datang pada
resepsi pernikahan untuk menenangkan banser. Untung saja banser-banser itu
patuh dan tidak jadi membakar rumah bapak.
Berdasarkan pengakuan bapak, suasana pada saat itu
sangat mencekam. bisa saja siang hari masih bercanda dengan tetangga, esoknya
orangtersebut hilang. Berdasarkan pengakuan bapak dan dikonfirmasi dengan
catatan TEMPO, eksekusi pembantaian sering dilakukan di Sungai Brantas. Kepala
yang terpenggal serta mayat dibuang di sungai agar mempermudah proses
penghilangan jejak. Ada cerita menarik yang hingga kini masih terpatri di
pikiran saya. Konon, ada seseorang yang memancing di Sungai Brantas. Ia
mendapatkan ikan yang sangat besar dan dijual di pasar. Sesampainya di pasar,
ikan tersebut dibeli dan dibawa pulang untuk dikonsumsi. Pada saat perut ikan
itu dipotong, terdapat kelingking manusia di dalamnya. Sejak itu, rumor akan
ikan ini bergulir dari mulut ke mulut dan tidak ada lagi orang yang berani
makan ikan, meskipun ikan tersebut bukandari Sungai Brantas. Teman Bapak juga
pernah melihat sebuah mayat yang mengapung dalam posisi telungkup di permukaan
sungai.
Sebenarnya bapak masih cerita banyak perihal
peristiwa itu. Konflik antara santri dengan orang-orang komunis, anggota PKI
yang memiliki ilmu kebal sehingga dimasukkan ke dalam tong dan dibuang ke
sungai, dan berbagai detil-detil lain yang menunjukkan fakta kekejian negara
ini dalam genosida yang dilakukan kepada saudara sendiri. Tapi saya rasa cerita
ini sudah cukup untuk mengintip kehidupan di masa itu. Semoga bisa memberikan
gambaran kecil akan tragedi bersejarah di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar