Senin, 10 Februari 2014

Sejumput cerita dari anak kecil yang hidup di tahun 1965




Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi sebuah toko buku kenamaan di Jakarta. Dari susunan rak tersebut, saya melihat ada satu buku yang berjudul PENGAKUAN ALGOJO TAHUN 1965 karya TEMPO. Buku itu memang sudah lama saya incar dan baru pada saat itu saya dapat membelinya.
Pada saat membaca lembar-lembar pertama di buku tersebut, diceritakan kondisi kehidupan masyarakat di tahun 1965-1966 yang sangat mencekam itu. Teror, pembunuhan, penyiksaan, nampaknya menjadi hal yang sangat wajar terjadi dalam masa itu. Seruan dari Soeharto untuk menumpas PKI hingga akar-akarnya menjadi legitimasi bagi para pembenci paham komunisme, orang-orang komunis, dan bahkan pembalas dendam, untuk melampiaskan kebencan mereka. Ya, banyak dari korban yang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali dengan PKI, ideologi, ataupun organisasi di bawah PKI yang menjadi korban dalam tragedi 1965 tersebut. Alangkah kagetnya ketika saya membaca sebuah pernyataan bahwa pembunuhan besar-besaran terjadi di Kediri, kota tempat bapak saya menghabiskan masa kecilnya. Pada peristiwa tersebut, bapak saya berusia 10 tahun. Masih sangat kecil untuk hidup dalam situasi yang sangat mencekam itu namun sudah cukup besar untuk memahami adanya kematian dan kehilangan orang-orang di sekitarnya.  Sudut pandang ini yang menarik bagi saya. Bagaimana seorang anak kecil berusia 10 tahun dapat tumbuh dalam lingkungan seperti itu? Apakah ada trauma? apakah salah satu anggota keluarga menjadi korban? Atau justru menjadi penjagal yang tetap dapat tertawa setelah membunuh dan menyiksa korbannya?
Saya pun mulai bertanya pada bapak saya. Beliau mengaku tidak banyak hal yang terjadi pada keluarga pada saat itu. Bapak saya mengaku hanya sering kelilingdi malam hari untuk mendapatkan makanan yang disediakan bagi penjaga yang ada di sekitar kampung. Maklum, pada zaman itu makanan sangat sulit diperoleh, apalagi oleh keluarga sederhana di pelosok desa. Namun, ada satu peristiwa yang cukup mencekam. Pada saat itu, Bude saya sedang melakukan upacara pernikahan. Keluarga belum banyak mengetahui adanya peritstiwa G30S dan penumpasan anggota/simpatisan PKI. Tiba-tiba, rombongan banser datang ke rumah bapak saya. Sebelumnya mereka telah membakar rumah tetangga dan hendak membakar rumah bapak saya pula. Untung saja pada saat itu, Pakde datang dan mencoba menenangkan para banser. Beliau dibantu para anggota PNI yang juga datang pada resepsi pernikahan untuk menenangkan banser. Untung saja banser-banser itu patuh dan tidak jadi membakar rumah bapak. 
Berdasarkan pengakuan bapak, suasana pada saat itu sangat mencekam. bisa saja siang hari masih bercanda dengan tetangga, esoknya orangtersebut hilang. Berdasarkan pengakuan bapak dan dikonfirmasi dengan catatan TEMPO, eksekusi pembantaian sering dilakukan di Sungai Brantas. Kepala yang terpenggal serta mayat dibuang di sungai agar mempermudah proses penghilangan jejak. Ada cerita menarik yang hingga kini masih terpatri di pikiran saya. Konon, ada seseorang yang memancing di Sungai Brantas. Ia mendapatkan ikan yang sangat besar dan dijual di pasar. Sesampainya di pasar, ikan tersebut dibeli dan dibawa pulang untuk dikonsumsi. Pada saat perut ikan itu dipotong, terdapat kelingking manusia di dalamnya. Sejak itu, rumor akan ikan ini bergulir dari mulut ke mulut dan tidak ada lagi orang yang berani makan ikan, meskipun ikan tersebut bukandari Sungai Brantas. Teman Bapak juga pernah melihat sebuah mayat yang mengapung dalam posisi telungkup di permukaan sungai.
Sebenarnya bapak masih cerita banyak perihal peristiwa itu. Konflik antara santri dengan orang-orang komunis, anggota PKI yang memiliki ilmu kebal sehingga dimasukkan ke dalam tong dan dibuang ke sungai, dan berbagai detil-detil lain yang menunjukkan fakta kekejian negara ini dalam genosida yang dilakukan kepada saudara sendiri. Tapi saya rasa cerita ini sudah cukup untuk mengintip kehidupan di masa itu. Semoga bisa memberikan gambaran kecil akan tragedi bersejarah di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar