Sedari kemarin malam (15/01/2014) hingga siang ini
(16/01/2014), saya membaca sebuah novel karya penulis kenamaan Leila S Chudori.
Penulis ini menjadi salah satu penulis favrit saya karena sukses membuat saya
iri akan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Tokoh dengan karakter yang kuat,
gaya penulisannya yang sederhana, tidak banyak metafora, dan plot cerita yang
menarik selalu membuat saya terpukau dan terngiang akan keindahan dari
novel-novelnya. Tidak seperti novel-novel drama penuh cinta dan drama, Leila
menyuguhkan realita kehidupan yang pahit namun bisa berbalik bersemi dengan
adanya cinta yang semu. Cerita-ceritanya akan para perantau intelektual yang
berhasil hidup di negeri orang. Ia menyuguhkan banyak sastrawan, seniman,
ilmuan, bahkan band-band legendaris yang masterpiecenya diakui secara global.
Sungguh bacaan dengan gaya hisup yang mungkin terlalu sempurna bagi saya.
Meskipun begitu, konflik yang dialami tokoh-tokoh di dalamnya bukanlah konflik
yang mudah untuk dijalankan. Dua sisi yang membuat hati saya sendiri
berkecamuk, antara menginginkan hidup dengan karakter dan gaya hidup tokoh dan
juga tidak mau terlibat dalam konflik-konflik yang bukan hanya personal, tapi
kadang menyangkut kebijakan negara yang tidak adil.
Sebelum membaca 9 dari Nadira, saya membaca Pulang.
Saya melihat adanya garis merah akan kedua novel tersebut. Berlatar Eropa dan
Indonesia (meskipun pada 9 dari Nadira terdapat pula Amerika dan Kanada) dan
juga konflik yang tak lepas dari peristiwa bersejarah di Indonesia atau mungkin
dunia. Kasus 1965 dan 1998 pada Pulang yang terasa sangat kental. Kasus 9/11
pada 9 dari Nadira meskipun hanya sebagai pemanis. Yang pasti saya menyukai
penggambaran dampak dati kondisi sosial-politik yang dirasakan bagi kehidupan
masyarakat sipil. Penggambaran ini yang jarang bisa saya temui di sembarang
novel.
9 dari Nadira menurut saya merupakan novel yang
sangat menarik. Di dalamnya terdapat 9 cerita pendek yang berpusat pada Nadira,
seorang gadis yang kuat, cuek, namun sangat menyayangi ibu dan keluarganya.9
cerita yang melihat Nadira dari berbagai peran dalam kehidupannya, sebagai
anak, sebagai wartawan, sebagai orang yang dicintai orang lain, sebagai istri,
dan sebagai manusia yang bebas. Saya sangat menikmati bagaimana Leila mendeskripsikan
konflik yang dialami Nadira yang tidak berlebihan. Leila juga mempermainkan pembaca dengan memutar setting
waktu dan tempat, serta sudut pandang ceria, terutama di kisah pertama. Saya
masih ragu apakah akhir dari cerita ini bisa tergolongpatut disayangkan... atau
justru lebih baik seperti itu ya? memberi misteri pada pembaca akan kehidupan
Nadira selanjutnya. Tujuan tulisan ini memang bukan untuk spoiler sih, sekedar
kesan akan karya Chudori yang berhasil membuat saya merasa saya tidak berguna
sebagai mahasiswa, sebagi manusia, hahaha. Di lain sisi, saya membutuhkan
bacaan seperti ini, yang bisa menampar saya jika hidup terlalu hedon dan terbawa
arus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar