Siang J
Jadi, siang hari ini secara tidak sengaja aku melihat dan
membaca akun twitter dan blog karya salah satu lembaga yang mengaku progresif
dan revolusioner di UI. Dari tulisannya, sangat keras, blak- blakan, dan kritis
dalam menanggapi berbagai persoalan yang ada di UI belakangan ini dari blog
tersebut terdapat berbagai memoriam kebudayaan Marxist dan paham komunis yang
kental terasa. Bagi sebagian orang, lembaga ini mungkin tampak sebagai
mahasiswa yang susah move on dari sejarah gemilangnya mahasiswa tempo 1965 dan
1998 dulu, dimana mahasiswa begitu ditakuti dan berhasil meruntuhkan rezim.
Banyak orang yang kuyakin menganggap lembaga ini adalah
lembaga lebay yang terlalu idealis dan tidak melihat realita. Namun aku melihat
lembaga ini menjadi pembakar dari redupnya semangat kaum muda untuk berjuang
dalam pergerakan demi kebaikan negeri ini. jika kita lihat belakangan ini,
mahasiswa semakin banyak, cendekiawan-cedekiawan semakin marak, tapi persoalan
negara tak kunjung ada solusinya. Banyak yang elbih sibuk memperkaya diri
sendiri mncapai kesuksesan. Sangat miris melihat negara yang berada di ambang
kehancuran tapi sedikit yag bertindak. Memang, aktivi juga makin marak disini
dan disana. Namun banyak juga mereka-mereka yang tau mana yang baik dan benar,
yang ideal, yang bisa meningkatkan harkat manusia namun lebih banyak diam tanpa
menyerukan apa-apa. Mungkin mereka bekerja dan langsung bertindak, tapi kurasa
tindakan tanpa kata-kata juga akan sama percumanya.
Menurut saya, lembaga ini baik adanya untuk terus berkembang
dan berdiri. Menyerukan semangat dengan kata-kata keras agar singa-singa yang
tertidur dalam buaian pujian bisa terbangun dan menampakkan wujudnya.
Lembaga-lembaga seperti ini dibutuhkan demi gerakan kaum muda yang tidak hanya
pintar bersolek, tidak hanya pintar berilmu, tidak hanya pintar melakukan
riset, tidak hanya pintar mencari uang, tetapijuga pintar untuk bertinda sesuai
kebutuhan masyarakat yang ada tidak hanya mengacu pada dunia barat tetapi hidup
dalam semangat timur. Semoga dengan adanya lembaga ini dan seruan-seruan dari
mereka, sebuah perdebatan, evaluasi, dan solusi bisa terwujud dengan baik dan
membuahkan hasil yang semakin memuaskan kedepannya. Bukankah dasar filsafat
adalah tesis selalu ada antitesis sehingga menghasilkan sintesis yang menjadi
sebuah tesis yang baru? Keberadaan lembaga ini bisa menjadi ‘anti-thesis’ yang
dasyat dari thesis-thesis yang penuh toleransi yag kujumpai selama ini.
Kadang aku ingin terbahak dengan dikotomi thesis-antithesis,
timur-barat, kiri-kanan, seakan dunia itu hitam-putih, seakan tidak ada ruang
bagi kita untuk menjadi abu, kuning, biru muda, atau ungu.
suka bagian "Kadang aku ingin terbahak dengan dikotomi thesis-antithesis, timur-barat, kiri-kanan, seakan dunia itu hitam-putih, seakan tidak ada ruang bagi kita untuk menjadi abu, kuning, biru muda, atau ungu." :D
BalasHapus