Senin, 10 Februari 2014

Sedikit Kesan akan Pergerakan



Siang J
Jadi, siang hari ini secara tidak sengaja aku melihat dan membaca akun twitter dan blog karya salah satu lembaga yang mengaku progresif dan revolusioner di UI. Dari tulisannya, sangat keras, blak- blakan, dan kritis dalam menanggapi berbagai persoalan yang ada di UI belakangan ini dari blog tersebut terdapat berbagai memoriam kebudayaan Marxist dan paham komunis yang kental terasa. Bagi sebagian orang, lembaga ini mungkin tampak sebagai mahasiswa yang susah move on dari sejarah gemilangnya mahasiswa tempo 1965 dan 1998 dulu, dimana mahasiswa begitu ditakuti dan berhasil meruntuhkan rezim.
Banyak orang yang kuyakin menganggap lembaga ini adalah lembaga lebay yang terlalu idealis dan tidak melihat realita. Namun aku melihat lembaga ini menjadi pembakar dari redupnya semangat kaum muda untuk berjuang dalam pergerakan demi kebaikan negeri ini. jika kita lihat belakangan ini, mahasiswa semakin banyak, cendekiawan-cedekiawan semakin marak, tapi persoalan negara tak kunjung ada solusinya. Banyak yang elbih sibuk memperkaya diri sendiri mncapai kesuksesan. Sangat miris melihat negara yang berada di ambang kehancuran tapi sedikit yag bertindak. Memang, aktivi juga makin marak disini dan disana. Namun banyak juga mereka-mereka yang tau mana yang baik dan benar, yang ideal, yang bisa meningkatkan harkat manusia namun lebih banyak diam tanpa menyerukan apa-apa. Mungkin mereka bekerja dan langsung bertindak, tapi kurasa tindakan tanpa kata-kata juga akan sama percumanya.
Menurut saya, lembaga ini baik adanya untuk terus berkembang dan berdiri. Menyerukan semangat dengan kata-kata keras agar singa-singa yang tertidur dalam buaian pujian bisa terbangun dan menampakkan wujudnya. Lembaga-lembaga seperti ini dibutuhkan demi gerakan kaum muda yang tidak hanya pintar bersolek, tidak hanya pintar berilmu, tidak hanya pintar melakukan riset, tidak hanya pintar mencari uang, tetapijuga pintar untuk bertinda sesuai kebutuhan masyarakat yang ada tidak hanya mengacu pada dunia barat tetapi hidup dalam semangat timur. Semoga dengan adanya lembaga ini dan seruan-seruan dari mereka, sebuah perdebatan, evaluasi, dan solusi bisa terwujud dengan baik dan membuahkan hasil yang semakin memuaskan kedepannya. Bukankah dasar filsafat adalah tesis selalu ada antitesis sehingga menghasilkan sintesis yang menjadi sebuah tesis yang baru? Keberadaan lembaga ini bisa menjadi ‘anti-thesis’ yang dasyat dari thesis-thesis yang penuh toleransi yag kujumpai selama ini.

Kadang aku ingin terbahak dengan dikotomi thesis-antithesis, timur-barat, kiri-kanan, seakan dunia itu hitam-putih, seakan tidak ada ruang bagi kita untuk menjadi abu, kuning, biru muda, atau ungu.

1 komentar:

  1. suka bagian "Kadang aku ingin terbahak dengan dikotomi thesis-antithesis, timur-barat, kiri-kanan, seakan dunia itu hitam-putih, seakan tidak ada ruang bagi kita untuk menjadi abu, kuning, biru muda, atau ungu." :D

    BalasHapus