Sabtu, 13 Desember 2014

SENYAP: sebuah review dan opini

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film yang berjudul Senyap (The look of silence). Film ini adalah buah karya Josgua Oppenheimer, seorang sutradara dan Antropolog yang sukses melejitkan namanya melalui film JAGAL (The Act of Killing), sebuah film dokumenter tentang preman yang pernah menjadi penjagal pada tragedi berdarah pasca-1965 di Sumatera.

SENYAP, karya kedua Joshua memiliki tema yang kurang lebih sama yaitu perihal kejadian pasca-1965. Namun saya akui kali ini Joshua lebih berani karena tidak hanya bertemu dan berinteraksi dengan penjagal dan korban, tetapi juga mempertemukan mereka sehingga menimbulkan 'luka lama', baik pada korban maupun pelaku. Karya ini bisa dikatakan nekat mengingat selepas JAGAL dirilis dan ditonton banyak orang, Joshua mengalami banyak ancaman sampai sempat tersiar kabar bahwa ia tidak berani datang ke Indonesia karena banyaknya ancaman tersebut, ya nyatanya dia tidak hanya datang bahkan membuat film lagi di Sumatera Utara (Film Jagal dibuat di Medan sementara Senyap di Deli Serdang-Sumatera Utara)

SENYAP menceritakan perjuangan Ade, adik dari Ramli yang dibunuh oleh orang-orang anti-PKI pada masa itu (1965-1968). Ia tinggal di sebuah pondok dengan ibu dan ayah yang sudah tua renta. Ade dilahirkan pada tahun 1968 sehingga tidak sempat bertemu dengan abangnya, namun ia tahu dari keluarganya bahwa abangnya menjadi korban karena bergabung dengan SOBSI (organisasi buruh yang berafiliasi dengan PKI). kabarnya, Ramli yang sudah dihajar mati-matian oleh massa sempat pulang ke rumah dan minta air kepada ibunya akan tetapi paginya, massa menjemput paksa Ramli untuk dibawa ke rumah sakit.

"di masa seperti ini, mana mungkin di bawa ke rumah sakit. pasti dibawa pergi dan dibunuh" demikian kata Ibu Ade saat diwawancarai anaknya.

Benar saja, berdasarkan rekaman Joshua yang mewawancarai pembunuh Ramli, Ramli dibunuh dalam keadaan babak belur, perut terbuka hingga usus terburai, dan kemaluan yang dipotong. Tindakan sadis ini sempat direkonstruksi oleh pembunuh Ramli di pinggir Sungai Ular, tempat pembantaian dilakukan saat itu. Video ini-beserta pengakuan algojo lain yang dengan bangga menyatakan 'prestasi'nya, ditonton oleh Ade. bayangkan, Anda melihat pembunuh saudara Anda bersaksi tentang bagaimana saudara Anda disiksa dan dibunuh sambil tertawa dan berfoto dengan bangga--dengan dalih atas nama pancasila!

Ade tidak hanya diam menyaksikan itu semua. Ia berusaha untuk menelusuri siapa saja orang yang bertanggung jawab dalam kematian kakakknya. Ia sambangi komando aksi yang berperan saat itu, pamannya yang bertugas menjadi penjaga penjara tempat Ramli diringkus, hingga pembunuh yang terang-terangan mengaku telah membunuh Ramli. Ia berdiskusi dengan mereka sebelum akhirnya mengaku bahwa ia adalah adik dari korban pembantaian 1965. Tentu, pengakuan tersebut memperkeruh suasana, membuat sebuah ruang hening, dari dialog penuh kebanggaan dan kesombongan menjadi mencekam entah karena takut dibalaskan dendam, takut aksinya dipublikasikan mengingat kesaksian tersebut direkam, atau merasa bersalah meskipun saya ragu

Dari film ini ada beberapa hal yang saya baru tahu. ternyata berdasarkan kepercayaan orang sana, jika pada masa pembantaian itu para algojo tidak meminum darah orang yang dibantainya, maka orang tersebut akan gila. maka meminum darah manusia banyak dilakukan oleh algojo di masa itu. Sebuah fakta yang mengerikan, jujur saja. betapa 'polos' dan 'naif'nya orang masa itu. mereka juga banyak yang tidak tahu apa jahatnya PKI, apa itu komunis, yang mereka tahu hanya komunis itu berpaham: Istrimu adalah istriku dan tidak ber-Tuhan. (lagi-lagi perempuan menjadi objek, lempar sana-lempar sini. apa ini hanya masalah 'kepemilikan' dan seks? timbul pula pertanyaan semacam ini walaupun perlu pula kita lihat lagi permasalahannya, tentu tidak hanya itu hehe).
 
ya, dangkal pemahamannya namun termakan propaganda! hasilnya pembantaian, pemerkosaan, fitnah, dan pelanggaran hak asasi korban maupun keluarga korban selama bertahun-tahun!

Tentunya film ini membangkitkan banyak ide-ide untuk menganalisa dari sisi psikologi. Bagaimana kesejahteraan dan kesehatan mental pelaku, korban, maupun keluarga korban hingga sekarang mengingat banyak kasus algojo yang menjadi 'gila' pasca pembantaian, apakah korban maupun keluarga korban dapat memaafkan pelaku, apakah kondisi psikologis pemerintah saat ini memungkinkan adanya inisiasi rekonsiliasi terhadap kasus ini. Namun saya rasa, analisa-analisa tersebut dapat kita bahas dalam tulisan lain. saya batasi tulisan ini hanya untuk review film dan kesan saya dengan film karena dibutuhkan kajian literatur yang lebih komprehensif. Mungkin saya bisa kembangkan gagasan saya tersebut dalam tulisan lain atau mungkin ada mahasiswa F.Psikologi lain yang ingin menganalisa film tersebut? ditunggu sekali :)

Poster Film SENYAP. Sumber: antaranews.com

Minggu, 29 Juni 2014

Dunia Sosial Media



Pagi ini seperti biasa gue men-scroll timeline di akun sosial media gue, twitter dan path. Dari scroll timeline itu, gue lihat perilaku temen-temen pada kedua sosial media yang menarik buat gue. Kenapa orang-orang mau post sesuatu di timelinenya ya? Kenapa dia pilih untuk post suatu hal tapi tidak yang lain? Sebenernya untuk apa? Untuk eksis? Apa eksis itu bisa direpresentasikan dengan post sesuatu?
Gue tau ini pertanyaan klasik tapi sekali lagi ini mengganggu hari yang insya allah produktif dalam hidup gue huehehehe. Kenapa ya seseorang memutuskan untuk post apapun di sosial medianya? Katakanlah path. Banyak orang yang gandrung dengan sosial media ini karena banyak hal yang bisa dipost kepada teman-teman tertentu yang privat baginya. Begitupun yang gue dapatkan dalam timeline path gue. Ada temen-temen yang post dia lagi dimana, sama siapa, ada yang post untuk pencitraan biar dia keliatan pinter *ups, ada juga yang pamer dia lagi wisata kemana mana mana. Gue bertanya2 apa mereka mikir ya akibatnya sebelum mereka post sesuatu? Apa mereka tau akibatnya? Apa bla blabla ini membingungkan dan pikiran gue juga lompat-lompat.
Gue sediri punya beberapa akun sosial media, ada facebook, twitter, path, instagram, tapi semuanya ga aktif wkwk. Biasanya gue jadi silent reader lebih karena gue bingung memutuskan harus post apa. Gue juga merasa ada segmentasi sendiri untuk tiap akun. Facebook tuh untuk kumpulin temen-temen yang lu kenal dari duluu ampe sekarang, mostly gue pake Cuma untuk liat grup angkata. Twitter, gue pake untuk dapetin informasi-informasi berguna buat gue konsumsi, dari orang-orang yang gue kagumi, temen-temen, dsb, instagram gue pake untuk liat catalog online shop yang jarang jug ague beli, nah kalo path…. Ini biasanya buat nyampah dan kepoin kehidupan temen-temen sih (?) tapi gue ga merasa jago nyampah. Gue terlalu khawatir orang-orang akan terganggu dengan postingan gue. Meskipun semua orang di sekitar gue bilang, yah ketika dia mau jadi temen lo, ya dia harus tau konsekuensinya itu. Tapi ya tetep aja ga bisa gitu lah. Duh pada paham ga yah.
Di path itu, kita mencitrakan hidup sehari-hari kita. Kita mau dipandang seperti apa sama temen-temen bisa tercitrakan di situ. Di path kita expect seseorang respon terhadap apa yang kita post, ntah love, frown, dll. Dan mostly, yang reaksiin postingan path lu adalah orang-orang terdekat lu. Masalahnya muncul ketika lu merasa ga ada orang-orang yang dekat dengan lu banget. Wait, jangan-kjangan masalah gue di situ ya… hmm.. mungkin karena gue jarang ngomong di socmed maupun dunia nyata gue jadi terkesan misterius… hmm.. membingungkan. Gue akui sih gue terlalu takut untuk mengungkapkan sesuatu yang belum gue pahami dengan baik, masalahnya gue juga ga merasa gue pernah paham akan sesuatu dengan baik. Lingkaran in jadi kayak lingkaran setan yang membuat gue enggan berpendapat. Hhh… sekali lagi, ini masalah yang cukup kompleks. Sesungguhnya gue berharap ada yang mau diskusi tentang ini. Saya merindukan diskusi.

Jumat, 07 Maret 2014

Mitos Perkosaan dan Akibatnya pada Korban Perkosaan



Tulisan ini saya buat untuk merayakan hari perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Semoga tulisan ini sedikit banyak dapat menggugah, setidaknya membuka pandangan kita akan skema patriarki yang selama ini hidup dalam masyarakat.

Banyak dari kita tentu pernah mendengar atau bahkan meyakini mitos-mitos atau ‘anggapan klasik’ dari kasus perkosaan. Katakanlah, perkosaan dilakukan oleh pria yang melihat perempuan dengan pakaian minim berjalan di tempat yang sepi pada malam hari. Atau mungkin banyak yang menganggap hubungan seksual yang dilakukan oleh suami istri tidak mungkin terdapat unsur perkosaan. Benarkah begitu? Benarkan banyak perempuan diperkosa orang yang tidak dikenal di malam hari? Benarkah perkosaan tidak mungkin terjadi dalam hubungan suami istri? Tentu diperlukan bukti atau data untuk menyatakan keabsahan mitos ini.
Berdasarkan data yang diperoleh oleh Komnas Perempuan, kasus kekerasan seksual di ruang privat/personal mencapai 70.115 kasus dari 93.960 kasus kekerasan seksual. Berdasarkan data yang tercatat, kasus kekerasan seksual yang paling banyak dilaporkan adalah kasus perkosaan yang mencapai 50% dari kasus kekerasan seksual tercatat. Kasus kekerasan seksual di ruang privat/personal adalah kekerasan sekual yang dilakukan oleh orang yang dikenal oleh korban, bisa dari kenalan, teman, keluarga, pacar, dan juga suami. Dari data ini saja, kita dapat menanpik dua mitos perkosaan, yaitu bahwa perkosaan sangat mungkin dilakukan oleh orang-orang yang dikenal korban bahkan suami sendiri.
Mungkin  menjadi pertanyaan di benak kita bagaimana mitos-mitos perkosaan masih berada dalam pikiran masyarakat padahal fakta mengatakan yang sebaliknya?. Para feminis, sosiolog, psikolog, dan ahli lainnya  menyatakan penyebabnya adalah kentalnya budaya patriarki dalam masyarakat (Brownmiller, 1975; Burt, 1980; Takwin, 2011). Budaya patriarki adalah budaya yang menganggap bahwa laki-laki memiliki status yang lebih tinggi dan lebih dominan dari perempuan. dalam sudut pandang patriarki, perempuan menjadi masyarakat kelas dua – yang kemudian menjadi judul buku feminis terkenal, Simone de Beauvoir, The Second Sex. Akibatnya, perempuan seringkali menjadi objek laki-laki laki-laki dalam bidang politik, hukum, sosial, bahkan seksualitas. Adanya pola pikir ini menyebabkan terinternalisasinya skema bahwa laki-laki lebih berkuasa dari perempuan. hal ini melatarbelakangi laki-laki memaksakan kehendaknya dalam hal seksualitas. Ya, perkosaan bukanlah masalah ketidakmampuan laki-laki untuk mengontrol hasrat seksualnya tetapi karena adanya keinginan untuk mengontrol dan berkuasa atas pihak lain (Amiruddin, 2011). Motif ini seringkali luput dari pandangan masyarakat yang hanya melihat perkosaan  dengan sebelah mata dan menyudutkan korban yang dianggap tidak lagi suci (mitos kesucian dan keperawanan pada perempuan adalah sebuah pembahasan yang panjang yang akan dibahas di lain waktu).Pandangan yang menyudutkan korban perkosaan membuat korban berada dalam situasi “sudah jatuh tertimpa tangga” atau dengan kata lain mengalami kesialan yang bertubi. Belum selesai korban menghadapi permasalahan pasca-perkosaan – penolakan diri yang tidak lagi suci, trauma, depresi, sakit fisik akibat perkosaan, perempuan harus dihadapkan dengan sikap negatif yang diberikan oleh lmasyarakat, penegak hukum, bahkan keluarga sendiri akibat diyakininya mitos perkosaan.
Kita memang tidak bisa serta merta menyalahkan masyarakat dengan adanya pola pikir ini karena masyarakat pun merupakan budaya korban patriarki. Mitos-mitos ini dibentuk oleh institusi-institusi pimpinan lelaki sehingga tidak dapat memberikan sudut pandang perempuan dalam menentukan kebijakannya, seperti hukum, budaya, agama, dan politik. Tak jarang bahkan mitos perkosaan ini dilegitimasi dengan ajaran-ajaran agama dan teks kitab suci yang diinterpretasikan oleh laki-laki.

Beberapa mitos perkosaan yang beredar di masyarakat, antara lain:
Perempuan menggugah lelaki untuk diperkosa
Mustahil suami melakukan serangan seksual kepada istri
Sindrom trauma perkosaan adalah masalah sementara
Perempuan menikmati bahkan menginginkan perkosaan
Pemerkosa adalah orang yang mengalami gangguan jiwa/abnormal
Banyak korban perkosaan yang memalsukan laporan perkosaannya
Perkosaan adalah kejahatan seksual
Tidak ada orang yang diperkosa jika orang tersebut tidak menginginkannya
Pria tidak bisa diperkosa
Perkosaan dilakukan dalam bentuk perilaku impulsif
Perkosaan disebabkan perempuan menggunakan pakaian minim dan berjalan di tempat sepi pada malam hari
Hanya orang-orang tertentu yang diperkosa. Ini tidak bisa terjadi pada saya
(Takwin, 2011)

Melihat mitos-mitos perkosaan di atas, saya harap kita semua dapat merefleksikan sejauh apa mitos perkosaan itu berada dalam diri kita. Apakah kita masih akan menerima mitos-mitos ini dan menjadi pihak-pihak yang menyudutkan korban-korban perkosaan tanpa melihat konteks dan latar belakang korban?
Selamat hari perempuan Internasional. Semoga keadilan, kebebasan, kesetaraan bisa diperoleh seluruh masyarakat dunia, termasuk perempuan.

Daftar Pustaka:
Brownmiller, S. (1975). Against our will: men, women, and rape. New York: Simon & Schuster.
Burt, M.R. (1980). Cultural myth and supports for rape. Journal of Personality and Social Psychology, 38, 217 – 230.
Komisi Nasional Perempuan. (2013). Kekerasan Seksual. Komisi Nasional Perempuan.
Takwin, B. (2011). Membongkar mitos perkosaan. Jurnal Perempuan, 71, 7 – 17. 

Selasa, 04 Maret 2014

Garis Besar Orasi Ilmiah "Meninggalkan Mentalitas Gerombolan menuju Mentalitas Sosial" oleh Dr. Bagus Takwin M. Hum



Senin ini (3 Maret 2014) merupakan perayaan Dies Natalis F.Psikologi UI yangke 61. Seperti biasa, dalam rangkaian dies natalis selalu terdapat acara pembacaan orasi ilmiah yang dilakukan oleh staf pengajar fakultas. Pada tahun ini orasi ilmiah dibacakan (dan dibuat) oleh Dr. Bagus Takwin M.Hum, seorang dosen yang sudah cukup tenar, kalau bisa dikatakan begitu, karena produktif menulis buku dan menjadi pembicara di berbagai kuliah umum maupun seminar. Judul orasi ilmiah adalah “Meninggalkan Mentalitas Gerombolan, menuju Mentalitas Sosial”. Berikut adalah tulisan saya, seorang mahasiswa yang (me-)sempat(kan) hadir untuk mendengarkan orasi ilmiah beliau. Isi dari tulisan ini tentunya tidak begitu lengkap dan komprehensif seperti tulisan Mas Aten sendiri, namun saya ingin coba untuk menjelaskan garis besar orasi ilmiah. Mari.

Penjelasan akan orasi ilmiah ini dimulai dengan adanya definisi dari mentalitas gerombolan itu sediri. Mentalitas gerobolan lebih dikenal sebagai herd/crowd behavior dalam psikologi sosial. Dalam mentalitas gerombolan, seseorang bertingkahlaku sesuai dengan rekan atau kelompok karena ada tekanan dari kelompok untuk mengikuti norma bersama (lisan maupun tertulis). Jadi, dalam mentalitas ini, seseorang cenderung mengikuti apa yang sudah diatur oleh kelompok dan menjadikan kelompok sebagai segalanya, baik dalam berperilaku, bersikap, dan mengambil keputusan.

Fenomena mentalitas gerombolan ini sudah disadari dan diaplikasikan dalam praktik ilmu-ilmu, seperti misalnya finance atau ekonomi. Dengan adanya kecenderungan untuk berperilaku sesuai dengan kelompok, maka seseorang berusaha untuk sama denga kelompoknya. Contoh pengguna blackberry yang pindah ke smartphone dengan OS android karena teman-temannya mulai meninggalkan blackberry yang selama ini menjadi trend dalam kehidupan kelompoknya. Contoh ini merupakan contoh kecil dari mentalitas gerombolan. Contoh mentalitas gerombolan yang cukup ekstrem juga pernah terjadi pada saat krisis tahun 1998. Pada saat itu muncul rumor akan langkanya sembako. Karena masyarakat panik maka masyarakat berusaha untuk  mencari dan membeli sembako sebanyak-banyaknya. Tak jarang kasus penimbunan sembako juga ditemukan. Chaos pada masyarakat ini justru merealisasi langkanya sembako karena tingginya permintaan yang tidak dibarengi dengan pemasukan yang tinggi pula. Dari contoh ini dapat ditarik kesimpulan bahwa mentalitas gerombolan terjadi jika berada dalam situasi tidak menentu tanpa adanya arahan sehingga individu secara otomatis berkonform dengan lingkungan sosialnya untuk berperilaku tertentu.

Neuropsikologi juga mempelajari kasus mentalitas gerombolan ini dan melihat bagaimana reaksinya dengan otak. Berdasarkan hasil penelitian danscan ditemukan bahwa otak memberikan reward terhadap perilaku konformitas bahkan memberikan peringatan apabila tidak mengikuti norma-norma yang ada dalam kelompok. Hal ini juga didukung dengan penemuan adanya asosiasi positif terhadap pengalaman kelompok dengan emosi. Bisa diartikan bahwa konformitas kepada kelompok itu memberikan reward kepada manusia dalam bentuk rasa aman, senang, enak, dsb. Oleh karena itu, bisa dikatakan, bahwa wajar manusia melakukan konformitas dan bermentalitas gerombolan..........pembelaannya sih seperti itu.

Kenyataannya, mentalitas gerombolan memberikan banyak kerugian kepada manusia itu sendiri. Berbagai penelitian menyatakan mentalitas gerombolan membuat adanya kerusuhan, konflik berdarah antar kelompok, konsumerisme tak terkendali, fanatisme, dl. Hal ini oleh Mas Aten dianggap sebagai jebakan sosial karena masyarakat dihadapkan oleh enaknya melakukan konformitas namun di sisi lain menyimpan potensi bahaya yang besar. Mas Aten berpendapat bahwa dalm mentalitas gerombolan terjadi anonimitas dan deindividuasi. Anonimitas yang dimaksud adalah dalam kelompok, seseorang tidak akan dikenal sebagai individu tersebut melainkan bagian dari kelompok. Dengan begitu individu merasa aman untuk berperilaku yang lebih dari biasanya, misalnya perilaku agresif. Hal ini sudah terbukti dari sebuah penelitian yang melihat perilaku mencuri permen pada anak kecil yang di hari Halloween. Anak-anak yang menggunakan kostum yang dapat menutupi identitas mereka dan meminta permen secara berkelompok, cenderung mencuri permen lebih banyak dari yang lain. 

Tentunya hidup dalam mentalitas gerombolan tersebut bukanlah hal yang kita impikan. Untuk mencegah hal tersebut dibutuhkan sebuah mentalitas sosial. Pada mentalitas sosial seseorang dilihat sebagai individu yang mampu hidup bersama dengan orang lain. Individu melakukan deindividuasi pada kelompok tetapi BUKAN menjadi individualistis. Dengan adanya deindividuasi, seseorang dapat menonjolkan karakter diri dan berpikir lebih jernih  dalam situasi-situasi yang bersangkutan dengan kelompok. Seseorang dapat menjadi diri sendiri sekaligus bersama dengan orang lain untuk menjalani hidup harmonis bersama dan bukan mengikuti tingkah laku orang lain. Dalam mentalitas sosial, individu mengubah kepedulian menjadi keterlibatan. Mentalitas sosial yang ideal membutuhkan keterbukaan untuk memahami, melampaui perspektif, menempatkan pada posisi orang lain, dan beradaptasi dengan lingkungan. Individu harus siap bernegosiasi, menghasilkan, dan menjalankan keputusan tana paksaan dan kekerasan. Dengan mentalitas sosial ini, seseorang dapat meleluasakan diri untuk menampakkan subjektivitas pribadi. 

Nah, lalu bagaimana dengan faktor neuropsikologi yang dirasakan pada mentalitas gerombolan? Bukankah itu melegitimasi bahwa perilaku konform atau mentalitas gerombolan merupakan kodrat yang diberikan bagi manusia? Kenyataanya, studi neuropsikologi lain menyatakan bahwa bentuk otak dan fungsinya dibentuk oleh lingkungan. Jika terdapat perubahan tingkah laku, fungsi dan bahkan struktur otak masih bisa berubah bahkan diusia dewasa dan lansia. Jadi bisa dikatakan bahwa tidak ada alasan ‘kodrati’ yang mencegah kita untuk mengubah mentalitas menjadi mentalitas sosial. 

Untuk dapat membangun mentalitas sosial, tentunya dibutuhkan kerjasama yang luar biasa dari berbagai aspek masyarakat, mulai dari pemerintah, ahli hukum, sosial, media, dll. beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membangun mentalitas sosial adalah:
1.       Fasilitas untuk mengaktualkan karakter. Dorongan untuk konform akan selalu ada dan dengan adanya karakter, sesorang dapat bertahan dari mentalitas gerombolan.
2.       Keluarga yang sehat untuk belajar sosial dengan orang lain. Sekolah juga berperan dalam pembelajaran sosial. Keluarga dapat melakukannya dengan pola asuh yang baik sedangkan sekolah dapat melakukan dengan membiarkan siswa menjadi pembelajar yang kritis dan peka lingkungan.
3.       Model dan contoh kehidupan sosial, bisa dilakukan oleh tokoh masyarakat dan televisi. Misalnya dengan meminimalisasi adanya distansiinfrastruktur antara desa dan kota
4.       Memfasilitasi masyarakat untuk membuat keputusan yang rasional.

Permasalahannya saat ini kondisi di Indonesia memang sangat sulit bahkan mungkin mustahil untuk melakukannya saat ini. Dalam hal ini, psikologi dapat berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mantalitas sosial. memperbanyak penelitian terkait mentalitas sosial dan mengampanyekan upaya-upaya menuju mentalitas sosial.

Sekian garis besar akan orasi ilmiah oleh Dr. Bagus Takwin M.Hum dalam dies natalis ke-61 F.Psikologi UI. Tentunya sangat banyak kekurangan dalam tulisan ini. Namun setidaknya dapat memberikan gambaran akan orasi ilmiah kemarin. Semoga bermanfaat :)

Minggu, 16 Februari 2014

Kesan akan Killers karya Mo Brothers



Kemarin sore (13/02/2014) akhirnya saya ke bioskop untuk menonton film yang sudah ditunggu-tunggu selama ini, killers. Film ini adalah sebuah psychological thriller yang belakangan dipromosikan sebagai karya luar biasa karya sutradara kenamaan, mo brothers, yang juga membuat film rumah dara. Film ini bekerja sama dengan rumah produksi di jepang yang merayakan ulang tahun yang ke 100. Sebelumnya, saya kenal sutradara film ini dari film rumah dara yang juga sempat booming di masanya. Walaupun masih banyak kekurangan di rumah dara, tetapi keberanian sutradara untuk membawa genre ini ke perfilman indonesia patut diacungi jempol.
Begitu pula dengan Killers. Ketika saya melihat trailer film ini, saya mendapat kesan film ini akan bergenre psychological thriller dengan kualitas yang lebih bagus dari film sebelumnya. Apalagi dengan kehadiran crew dari jepang yang tidak bisa diragukan lagi kepiawaiannya dalam membuat film bergenre itu. Hati saya semakin senang, karena aktor Jepang yang bermain dalam film itu adalah Kazuki Kitamura, aktor yang selama ini mampu memainkan berbagai peran dengan sangat baik dan menawan.
Beberapa saat setelah premier filmnya, ada berita yang bilang kalo Killer itu jelek dan tidak pantas ditonton. Saya heran dan tidak percaya akan kejelekan filmnya. Berkali-kali teman saya menganjurkan untuk tidak menonton, tapi saya merasa harus mennton sebagai pecinta thriller, hahaha.
Akhirnya, setelah menonton film tersebut, kesimpulan saya adalah: film ini jauh dari kata jelek. Saya cukup puas menonton film ini. berikut beberapa pon yang bisa saya kemukakan:
1.       Akting aktornya luar biasa. Peran-peran yang ada dalam film ini tidak biasa dilakukan dalam film atau sinetron yang ada di Indonesia. Saya sangat terkesima dengan aktor oka antara yang sangat baik membawakan diri sebagai seorang yang bengis, ketakutan, bahkan berduka dengan kapasitas yang pas
2.       Scene yang penuh darah dan kekerasan bisa dikatakan cukup, tidak terlalu banyak sehingga membuat penonton mual, namun juga tetap dapat membuat penonton bergidik. Adegan-adegan ini juga didukung dengan make up yang baik sekali sehingga memberikan kesan serupa realita
3.       Detil-detil dalam film dipersiapkan dengan matang. Mungkin karena mengambil kehidupan di era modern sehingga tidak perlu memperhatikan detil dengan khusus, namun disamping itu, ide untuk membuat detil-detil krusial patut diapresiasi
4.       Plot cerita jelas dan mudah untuk diikuti alurnya. Semua elemen dalam film penting untuk diperhatikan dan memberikan kesinambungan dalam film.
Meskipun begitu, memang ada beberapa kekurangan dari film ini:
1.       Cerita cukup mudah ditebak dan beberapa jalan cerita terkesan sangat klise. Namun masih dalam taraf menyenangkan dan menegangkan untuk ditonton
2.       Grafik di akhir cerita yang cukup lame. Menurut saya di era modern ini efek komputernya sangat bisa untuk diperbaiki lagi. ntah mengapa jadi seperti itu.
3.       Film ini bukan konsumsi masyarakat Indonesia pada umumnya. Saya yakin bahkan masyarakat dunia pun hanya sedikit yang menyukai genre ini. kalau film ini ditonton oleh orang-orang yang kurang bijak pun, bisa-bisa diamini sebagai kehidupan sehari-hari. Untung saja film ini khusus dewasa.
Secara keseluruhan, saya merasa film ini adalah film yang baik dan layak untuk ditonton, terutama bagi yang menyukai film bergenre thriller dan psychological thriller. Sangat tidak disarankan ditonton oleh anak-anak dan orang yang tidak menyukai thriller karena kemungkinan besar akan mengatakan bahwa film ini adalah film yang buruk. Jujur saja, saya kesal dengan opini-opini orang yang mengatakan film ini buruk tanpa argumen yang jelas. Saya pun berspekulasi bahwa mereka bukanlah orang ang biasa menonton film seperti ini atau berekspektasi terlalu tinggi hingga mengharapkan film yang menggugah diri mereka. Saya perlu tekankan bahwa film ini sangat patut dihargai karena memiliki kualitas yang sangat baik, apalagi dalam standar film indonesia. Walau bukan film yang mendidik, tetapi kekayaan pustaka film indonesia bertambah dengan film ini dan patut dibanggakan.