Selasa, 04 Maret 2014

Garis Besar Orasi Ilmiah "Meninggalkan Mentalitas Gerombolan menuju Mentalitas Sosial" oleh Dr. Bagus Takwin M. Hum



Senin ini (3 Maret 2014) merupakan perayaan Dies Natalis F.Psikologi UI yangke 61. Seperti biasa, dalam rangkaian dies natalis selalu terdapat acara pembacaan orasi ilmiah yang dilakukan oleh staf pengajar fakultas. Pada tahun ini orasi ilmiah dibacakan (dan dibuat) oleh Dr. Bagus Takwin M.Hum, seorang dosen yang sudah cukup tenar, kalau bisa dikatakan begitu, karena produktif menulis buku dan menjadi pembicara di berbagai kuliah umum maupun seminar. Judul orasi ilmiah adalah “Meninggalkan Mentalitas Gerombolan, menuju Mentalitas Sosial”. Berikut adalah tulisan saya, seorang mahasiswa yang (me-)sempat(kan) hadir untuk mendengarkan orasi ilmiah beliau. Isi dari tulisan ini tentunya tidak begitu lengkap dan komprehensif seperti tulisan Mas Aten sendiri, namun saya ingin coba untuk menjelaskan garis besar orasi ilmiah. Mari.

Penjelasan akan orasi ilmiah ini dimulai dengan adanya definisi dari mentalitas gerombolan itu sediri. Mentalitas gerobolan lebih dikenal sebagai herd/crowd behavior dalam psikologi sosial. Dalam mentalitas gerombolan, seseorang bertingkahlaku sesuai dengan rekan atau kelompok karena ada tekanan dari kelompok untuk mengikuti norma bersama (lisan maupun tertulis). Jadi, dalam mentalitas ini, seseorang cenderung mengikuti apa yang sudah diatur oleh kelompok dan menjadikan kelompok sebagai segalanya, baik dalam berperilaku, bersikap, dan mengambil keputusan.

Fenomena mentalitas gerombolan ini sudah disadari dan diaplikasikan dalam praktik ilmu-ilmu, seperti misalnya finance atau ekonomi. Dengan adanya kecenderungan untuk berperilaku sesuai dengan kelompok, maka seseorang berusaha untuk sama denga kelompoknya. Contoh pengguna blackberry yang pindah ke smartphone dengan OS android karena teman-temannya mulai meninggalkan blackberry yang selama ini menjadi trend dalam kehidupan kelompoknya. Contoh ini merupakan contoh kecil dari mentalitas gerombolan. Contoh mentalitas gerombolan yang cukup ekstrem juga pernah terjadi pada saat krisis tahun 1998. Pada saat itu muncul rumor akan langkanya sembako. Karena masyarakat panik maka masyarakat berusaha untuk  mencari dan membeli sembako sebanyak-banyaknya. Tak jarang kasus penimbunan sembako juga ditemukan. Chaos pada masyarakat ini justru merealisasi langkanya sembako karena tingginya permintaan yang tidak dibarengi dengan pemasukan yang tinggi pula. Dari contoh ini dapat ditarik kesimpulan bahwa mentalitas gerombolan terjadi jika berada dalam situasi tidak menentu tanpa adanya arahan sehingga individu secara otomatis berkonform dengan lingkungan sosialnya untuk berperilaku tertentu.

Neuropsikologi juga mempelajari kasus mentalitas gerombolan ini dan melihat bagaimana reaksinya dengan otak. Berdasarkan hasil penelitian danscan ditemukan bahwa otak memberikan reward terhadap perilaku konformitas bahkan memberikan peringatan apabila tidak mengikuti norma-norma yang ada dalam kelompok. Hal ini juga didukung dengan penemuan adanya asosiasi positif terhadap pengalaman kelompok dengan emosi. Bisa diartikan bahwa konformitas kepada kelompok itu memberikan reward kepada manusia dalam bentuk rasa aman, senang, enak, dsb. Oleh karena itu, bisa dikatakan, bahwa wajar manusia melakukan konformitas dan bermentalitas gerombolan..........pembelaannya sih seperti itu.

Kenyataannya, mentalitas gerombolan memberikan banyak kerugian kepada manusia itu sendiri. Berbagai penelitian menyatakan mentalitas gerombolan membuat adanya kerusuhan, konflik berdarah antar kelompok, konsumerisme tak terkendali, fanatisme, dl. Hal ini oleh Mas Aten dianggap sebagai jebakan sosial karena masyarakat dihadapkan oleh enaknya melakukan konformitas namun di sisi lain menyimpan potensi bahaya yang besar. Mas Aten berpendapat bahwa dalm mentalitas gerombolan terjadi anonimitas dan deindividuasi. Anonimitas yang dimaksud adalah dalam kelompok, seseorang tidak akan dikenal sebagai individu tersebut melainkan bagian dari kelompok. Dengan begitu individu merasa aman untuk berperilaku yang lebih dari biasanya, misalnya perilaku agresif. Hal ini sudah terbukti dari sebuah penelitian yang melihat perilaku mencuri permen pada anak kecil yang di hari Halloween. Anak-anak yang menggunakan kostum yang dapat menutupi identitas mereka dan meminta permen secara berkelompok, cenderung mencuri permen lebih banyak dari yang lain. 

Tentunya hidup dalam mentalitas gerombolan tersebut bukanlah hal yang kita impikan. Untuk mencegah hal tersebut dibutuhkan sebuah mentalitas sosial. Pada mentalitas sosial seseorang dilihat sebagai individu yang mampu hidup bersama dengan orang lain. Individu melakukan deindividuasi pada kelompok tetapi BUKAN menjadi individualistis. Dengan adanya deindividuasi, seseorang dapat menonjolkan karakter diri dan berpikir lebih jernih  dalam situasi-situasi yang bersangkutan dengan kelompok. Seseorang dapat menjadi diri sendiri sekaligus bersama dengan orang lain untuk menjalani hidup harmonis bersama dan bukan mengikuti tingkah laku orang lain. Dalam mentalitas sosial, individu mengubah kepedulian menjadi keterlibatan. Mentalitas sosial yang ideal membutuhkan keterbukaan untuk memahami, melampaui perspektif, menempatkan pada posisi orang lain, dan beradaptasi dengan lingkungan. Individu harus siap bernegosiasi, menghasilkan, dan menjalankan keputusan tana paksaan dan kekerasan. Dengan mentalitas sosial ini, seseorang dapat meleluasakan diri untuk menampakkan subjektivitas pribadi. 

Nah, lalu bagaimana dengan faktor neuropsikologi yang dirasakan pada mentalitas gerombolan? Bukankah itu melegitimasi bahwa perilaku konform atau mentalitas gerombolan merupakan kodrat yang diberikan bagi manusia? Kenyataanya, studi neuropsikologi lain menyatakan bahwa bentuk otak dan fungsinya dibentuk oleh lingkungan. Jika terdapat perubahan tingkah laku, fungsi dan bahkan struktur otak masih bisa berubah bahkan diusia dewasa dan lansia. Jadi bisa dikatakan bahwa tidak ada alasan ‘kodrati’ yang mencegah kita untuk mengubah mentalitas menjadi mentalitas sosial. 

Untuk dapat membangun mentalitas sosial, tentunya dibutuhkan kerjasama yang luar biasa dari berbagai aspek masyarakat, mulai dari pemerintah, ahli hukum, sosial, media, dll. beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membangun mentalitas sosial adalah:
1.       Fasilitas untuk mengaktualkan karakter. Dorongan untuk konform akan selalu ada dan dengan adanya karakter, sesorang dapat bertahan dari mentalitas gerombolan.
2.       Keluarga yang sehat untuk belajar sosial dengan orang lain. Sekolah juga berperan dalam pembelajaran sosial. Keluarga dapat melakukannya dengan pola asuh yang baik sedangkan sekolah dapat melakukan dengan membiarkan siswa menjadi pembelajar yang kritis dan peka lingkungan.
3.       Model dan contoh kehidupan sosial, bisa dilakukan oleh tokoh masyarakat dan televisi. Misalnya dengan meminimalisasi adanya distansiinfrastruktur antara desa dan kota
4.       Memfasilitasi masyarakat untuk membuat keputusan yang rasional.

Permasalahannya saat ini kondisi di Indonesia memang sangat sulit bahkan mungkin mustahil untuk melakukannya saat ini. Dalam hal ini, psikologi dapat berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mantalitas sosial. memperbanyak penelitian terkait mentalitas sosial dan mengampanyekan upaya-upaya menuju mentalitas sosial.

Sekian garis besar akan orasi ilmiah oleh Dr. Bagus Takwin M.Hum dalam dies natalis ke-61 F.Psikologi UI. Tentunya sangat banyak kekurangan dalam tulisan ini. Namun setidaknya dapat memberikan gambaran akan orasi ilmiah kemarin. Semoga bermanfaat :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar