Senin ini (3 Maret 2014)
merupakan perayaan Dies Natalis F.Psikologi UI yangke 61. Seperti biasa, dalam
rangkaian dies natalis selalu terdapat acara pembacaan orasi ilmiah yang
dilakukan oleh staf pengajar fakultas. Pada tahun ini orasi ilmiah dibacakan
(dan dibuat) oleh Dr. Bagus Takwin M.Hum, seorang dosen yang sudah cukup tenar,
kalau bisa dikatakan begitu, karena produktif menulis buku dan menjadi pembicara
di berbagai kuliah umum maupun seminar. Judul orasi ilmiah adalah “Meninggalkan
Mentalitas Gerombolan, menuju Mentalitas Sosial”. Berikut adalah tulisan saya,
seorang mahasiswa yang (me-)sempat(kan) hadir untuk mendengarkan orasi ilmiah
beliau. Isi dari tulisan ini tentunya tidak begitu lengkap dan komprehensif
seperti tulisan Mas Aten sendiri, namun saya ingin coba untuk menjelaskan garis
besar orasi ilmiah. Mari.
Penjelasan akan orasi ilmiah ini
dimulai dengan adanya definisi dari mentalitas gerombolan itu sediri.
Mentalitas gerobolan lebih dikenal sebagai herd/crowd behavior dalam psikologi
sosial. Dalam mentalitas gerombolan, seseorang bertingkahlaku sesuai dengan
rekan atau kelompok karena ada tekanan dari kelompok untuk mengikuti norma
bersama (lisan maupun tertulis). Jadi, dalam mentalitas ini, seseorang
cenderung mengikuti apa yang sudah diatur oleh kelompok dan menjadikan kelompok
sebagai segalanya, baik dalam berperilaku, bersikap, dan mengambil keputusan.
Fenomena mentalitas gerombolan
ini sudah disadari dan diaplikasikan dalam praktik ilmu-ilmu, seperti misalnya
finance atau ekonomi. Dengan adanya kecenderungan untuk berperilaku sesuai
dengan kelompok, maka seseorang berusaha untuk sama denga kelompoknya. Contoh
pengguna blackberry yang pindah ke smartphone dengan OS android karena
teman-temannya mulai meninggalkan blackberry yang selama ini menjadi trend
dalam kehidupan kelompoknya. Contoh ini merupakan contoh kecil dari mentalitas
gerombolan. Contoh mentalitas gerombolan yang cukup ekstrem juga pernah terjadi
pada saat krisis tahun 1998. Pada saat itu muncul rumor akan langkanya sembako.
Karena masyarakat panik maka masyarakat berusaha untuk mencari dan membeli sembako
sebanyak-banyaknya. Tak jarang kasus penimbunan sembako juga ditemukan. Chaos pada
masyarakat ini justru merealisasi langkanya sembako karena tingginya permintaan
yang tidak dibarengi dengan pemasukan yang tinggi pula. Dari contoh ini dapat
ditarik kesimpulan bahwa mentalitas gerombolan terjadi jika berada dalam
situasi tidak menentu tanpa adanya arahan sehingga individu secara otomatis
berkonform dengan lingkungan sosialnya untuk berperilaku tertentu.
Neuropsikologi juga mempelajari
kasus mentalitas gerombolan ini dan melihat bagaimana reaksinya dengan otak.
Berdasarkan hasil penelitian danscan ditemukan bahwa otak memberikan reward
terhadap perilaku konformitas bahkan memberikan peringatan apabila tidak
mengikuti norma-norma yang ada dalam kelompok. Hal ini juga didukung dengan
penemuan adanya asosiasi positif terhadap pengalaman kelompok dengan emosi.
Bisa diartikan bahwa konformitas kepada kelompok itu memberikan reward kepada
manusia dalam bentuk rasa aman, senang, enak, dsb. Oleh karena itu, bisa
dikatakan, bahwa wajar manusia melakukan konformitas dan bermentalitas
gerombolan..........pembelaannya sih seperti itu.
Kenyataannya, mentalitas
gerombolan memberikan banyak kerugian kepada manusia itu sendiri. Berbagai
penelitian menyatakan mentalitas gerombolan membuat adanya kerusuhan, konflik
berdarah antar kelompok, konsumerisme tak terkendali, fanatisme, dl. Hal ini
oleh Mas Aten dianggap sebagai jebakan sosial karena masyarakat dihadapkan oleh
enaknya melakukan konformitas namun di sisi lain menyimpan potensi bahaya yang
besar. Mas Aten berpendapat bahwa dalm mentalitas gerombolan terjadi anonimitas
dan deindividuasi. Anonimitas yang dimaksud adalah dalam kelompok, seseorang
tidak akan dikenal sebagai individu tersebut melainkan bagian dari kelompok.
Dengan begitu individu merasa aman untuk berperilaku yang lebih dari biasanya,
misalnya perilaku agresif. Hal ini sudah terbukti dari sebuah penelitian yang
melihat perilaku mencuri permen pada anak kecil yang di hari Halloween.
Anak-anak yang menggunakan kostum yang dapat menutupi identitas mereka dan
meminta permen secara berkelompok, cenderung mencuri permen lebih banyak dari
yang lain.
Tentunya hidup dalam mentalitas
gerombolan tersebut bukanlah hal yang kita impikan. Untuk mencegah hal tersebut
dibutuhkan sebuah mentalitas sosial. Pada mentalitas sosial seseorang dilihat
sebagai individu yang mampu hidup bersama dengan orang lain. Individu melakukan
deindividuasi pada kelompok tetapi BUKAN menjadi individualistis. Dengan adanya
deindividuasi, seseorang dapat menonjolkan karakter diri dan berpikir lebih
jernih dalam situasi-situasi yang
bersangkutan dengan kelompok. Seseorang dapat menjadi diri sendiri sekaligus
bersama dengan orang lain untuk menjalani hidup harmonis bersama dan bukan
mengikuti tingkah laku orang lain. Dalam mentalitas sosial, individu mengubah
kepedulian menjadi keterlibatan. Mentalitas sosial yang ideal membutuhkan
keterbukaan untuk memahami, melampaui perspektif, menempatkan pada posisi orang
lain, dan beradaptasi dengan lingkungan. Individu harus siap bernegosiasi,
menghasilkan, dan menjalankan keputusan tana paksaan dan kekerasan. Dengan
mentalitas sosial ini, seseorang dapat meleluasakan diri untuk menampakkan
subjektivitas pribadi.
Nah, lalu bagaimana dengan faktor
neuropsikologi yang dirasakan pada mentalitas gerombolan? Bukankah itu
melegitimasi bahwa perilaku konform atau mentalitas gerombolan merupakan kodrat
yang diberikan bagi manusia? Kenyataanya, studi neuropsikologi lain menyatakan
bahwa bentuk otak dan fungsinya dibentuk oleh lingkungan. Jika terdapat
perubahan tingkah laku, fungsi dan bahkan struktur otak masih bisa berubah
bahkan diusia dewasa dan lansia. Jadi bisa dikatakan bahwa tidak ada alasan
‘kodrati’ yang mencegah kita untuk mengubah mentalitas menjadi mentalitas
sosial.
Untuk dapat membangun mentalitas
sosial, tentunya dibutuhkan kerjasama yang luar biasa dari berbagai aspek
masyarakat, mulai dari pemerintah, ahli hukum, sosial, media, dll. beberapa
upaya yang dapat dilakukan untuk membangun mentalitas sosial adalah:
1. Fasilitas
untuk mengaktualkan karakter. Dorongan untuk konform akan selalu ada dan dengan
adanya karakter, sesorang dapat bertahan dari mentalitas gerombolan.
2. Keluarga
yang sehat untuk belajar sosial dengan orang lain. Sekolah juga berperan dalam pembelajaran
sosial. Keluarga dapat melakukannya dengan pola asuh yang baik sedangkan sekolah
dapat melakukan dengan membiarkan siswa menjadi pembelajar yang kritis dan peka
lingkungan.
3. Model
dan contoh kehidupan sosial, bisa dilakukan oleh tokoh masyarakat dan televisi.
Misalnya dengan meminimalisasi adanya distansiinfrastruktur antara desa dan
kota
4. Memfasilitasi
masyarakat untuk membuat keputusan yang rasional.
Permasalahannya saat ini kondisi
di Indonesia memang sangat sulit bahkan mungkin mustahil untuk melakukannya
saat ini. Dalam hal ini, psikologi dapat berperan dalam meningkatkan kesadaran
masyarakat akan pentingnya mantalitas sosial. memperbanyak penelitian terkait mentalitas
sosial dan mengampanyekan upaya-upaya menuju mentalitas sosial.
Sekian garis besar akan orasi
ilmiah oleh Dr. Bagus Takwin M.Hum dalam dies natalis ke-61 F.Psikologi UI.
Tentunya sangat banyak kekurangan dalam tulisan ini. Namun setidaknya dapat
memberikan gambaran akan orasi ilmiah kemarin. Semoga bermanfaat :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar