Jumat, 07 Maret 2014

Mitos Perkosaan dan Akibatnya pada Korban Perkosaan



Tulisan ini saya buat untuk merayakan hari perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Semoga tulisan ini sedikit banyak dapat menggugah, setidaknya membuka pandangan kita akan skema patriarki yang selama ini hidup dalam masyarakat.

Banyak dari kita tentu pernah mendengar atau bahkan meyakini mitos-mitos atau ‘anggapan klasik’ dari kasus perkosaan. Katakanlah, perkosaan dilakukan oleh pria yang melihat perempuan dengan pakaian minim berjalan di tempat yang sepi pada malam hari. Atau mungkin banyak yang menganggap hubungan seksual yang dilakukan oleh suami istri tidak mungkin terdapat unsur perkosaan. Benarkah begitu? Benarkan banyak perempuan diperkosa orang yang tidak dikenal di malam hari? Benarkah perkosaan tidak mungkin terjadi dalam hubungan suami istri? Tentu diperlukan bukti atau data untuk menyatakan keabsahan mitos ini.
Berdasarkan data yang diperoleh oleh Komnas Perempuan, kasus kekerasan seksual di ruang privat/personal mencapai 70.115 kasus dari 93.960 kasus kekerasan seksual. Berdasarkan data yang tercatat, kasus kekerasan seksual yang paling banyak dilaporkan adalah kasus perkosaan yang mencapai 50% dari kasus kekerasan seksual tercatat. Kasus kekerasan seksual di ruang privat/personal adalah kekerasan sekual yang dilakukan oleh orang yang dikenal oleh korban, bisa dari kenalan, teman, keluarga, pacar, dan juga suami. Dari data ini saja, kita dapat menanpik dua mitos perkosaan, yaitu bahwa perkosaan sangat mungkin dilakukan oleh orang-orang yang dikenal korban bahkan suami sendiri.
Mungkin  menjadi pertanyaan di benak kita bagaimana mitos-mitos perkosaan masih berada dalam pikiran masyarakat padahal fakta mengatakan yang sebaliknya?. Para feminis, sosiolog, psikolog, dan ahli lainnya  menyatakan penyebabnya adalah kentalnya budaya patriarki dalam masyarakat (Brownmiller, 1975; Burt, 1980; Takwin, 2011). Budaya patriarki adalah budaya yang menganggap bahwa laki-laki memiliki status yang lebih tinggi dan lebih dominan dari perempuan. dalam sudut pandang patriarki, perempuan menjadi masyarakat kelas dua – yang kemudian menjadi judul buku feminis terkenal, Simone de Beauvoir, The Second Sex. Akibatnya, perempuan seringkali menjadi objek laki-laki laki-laki dalam bidang politik, hukum, sosial, bahkan seksualitas. Adanya pola pikir ini menyebabkan terinternalisasinya skema bahwa laki-laki lebih berkuasa dari perempuan. hal ini melatarbelakangi laki-laki memaksakan kehendaknya dalam hal seksualitas. Ya, perkosaan bukanlah masalah ketidakmampuan laki-laki untuk mengontrol hasrat seksualnya tetapi karena adanya keinginan untuk mengontrol dan berkuasa atas pihak lain (Amiruddin, 2011). Motif ini seringkali luput dari pandangan masyarakat yang hanya melihat perkosaan  dengan sebelah mata dan menyudutkan korban yang dianggap tidak lagi suci (mitos kesucian dan keperawanan pada perempuan adalah sebuah pembahasan yang panjang yang akan dibahas di lain waktu).Pandangan yang menyudutkan korban perkosaan membuat korban berada dalam situasi “sudah jatuh tertimpa tangga” atau dengan kata lain mengalami kesialan yang bertubi. Belum selesai korban menghadapi permasalahan pasca-perkosaan – penolakan diri yang tidak lagi suci, trauma, depresi, sakit fisik akibat perkosaan, perempuan harus dihadapkan dengan sikap negatif yang diberikan oleh lmasyarakat, penegak hukum, bahkan keluarga sendiri akibat diyakininya mitos perkosaan.
Kita memang tidak bisa serta merta menyalahkan masyarakat dengan adanya pola pikir ini karena masyarakat pun merupakan budaya korban patriarki. Mitos-mitos ini dibentuk oleh institusi-institusi pimpinan lelaki sehingga tidak dapat memberikan sudut pandang perempuan dalam menentukan kebijakannya, seperti hukum, budaya, agama, dan politik. Tak jarang bahkan mitos perkosaan ini dilegitimasi dengan ajaran-ajaran agama dan teks kitab suci yang diinterpretasikan oleh laki-laki.

Beberapa mitos perkosaan yang beredar di masyarakat, antara lain:
Perempuan menggugah lelaki untuk diperkosa
Mustahil suami melakukan serangan seksual kepada istri
Sindrom trauma perkosaan adalah masalah sementara
Perempuan menikmati bahkan menginginkan perkosaan
Pemerkosa adalah orang yang mengalami gangguan jiwa/abnormal
Banyak korban perkosaan yang memalsukan laporan perkosaannya
Perkosaan adalah kejahatan seksual
Tidak ada orang yang diperkosa jika orang tersebut tidak menginginkannya
Pria tidak bisa diperkosa
Perkosaan dilakukan dalam bentuk perilaku impulsif
Perkosaan disebabkan perempuan menggunakan pakaian minim dan berjalan di tempat sepi pada malam hari
Hanya orang-orang tertentu yang diperkosa. Ini tidak bisa terjadi pada saya
(Takwin, 2011)

Melihat mitos-mitos perkosaan di atas, saya harap kita semua dapat merefleksikan sejauh apa mitos perkosaan itu berada dalam diri kita. Apakah kita masih akan menerima mitos-mitos ini dan menjadi pihak-pihak yang menyudutkan korban-korban perkosaan tanpa melihat konteks dan latar belakang korban?
Selamat hari perempuan Internasional. Semoga keadilan, kebebasan, kesetaraan bisa diperoleh seluruh masyarakat dunia, termasuk perempuan.

Daftar Pustaka:
Brownmiller, S. (1975). Against our will: men, women, and rape. New York: Simon & Schuster.
Burt, M.R. (1980). Cultural myth and supports for rape. Journal of Personality and Social Psychology, 38, 217 – 230.
Komisi Nasional Perempuan. (2013). Kekerasan Seksual. Komisi Nasional Perempuan.
Takwin, B. (2011). Membongkar mitos perkosaan. Jurnal Perempuan, 71, 7 – 17. 

1 komentar:

  1. Saya ingin perkenalkan kepada saudari semua khususnya yang akan melangsungkan pernikahan. Yaitu sebuah produk yang sangat revolusioner dengan nama selaput dara buatan. Selaput dara buatan ini berfungsi untuk menciptakan sebuah peristiwa yang sangat penting. Peristiwa apakah itu ? yaitu peristiwa terjadinya pendarahan di malam perkawinan anda. Bagaimana mungkin anda bisa kembali berdarah pada saat anda melewati malam pertama perkawinan anda jika anda sudah pernah melewatinya tanpa diawali dengan upacara perkawinan yang semestinya ? atau bisa jadi karena anda pernah mengalami kejadian yang tidak anda sengaja sehingga anda harus kehilangan selaput dara anda. Selaput dara buatan adalah solusi tepat untuk mengantisipasi keadaan tersebut. Diciptakan oleh ahli kesehatan Jepang pada tahun 1993 dan sudah terbukti aman dipergunakan, karena dibuat dari bahan yang mudah larut dan akan hilang bersama dengan cairan yang keluar dari alat kelamin wanita. Mudah digunakan dan tergolong murah jika dibandingkan dengan operasi selaput dara yang selama ini sudah banyak dilakukan oleh dokter kandungan. Apa yang terjadi pada malam pernikahan anda ketika anda sudah memakai Selaput Dara Buatan ini ? Tentunya suami akan mendapati anda adalah sosok wanita yang tepat bagi suami anda. Karena suami anda akan mendapati darah pada alat kelamin anda dan pada alas tempat tidur anda. Bukankah ini adalah sebuah momen yang paling ditunggu-tunggu pada kebanyakan pria ? Tunggu apa lagi. Segera pertimbangkan sekarang juga. Jangan membuat suami tercinta anda kecewa selamanya. Detail produk bisa kirim sms ke nomor 085852087449 atau invite 2A8D426

    BalasHapus