Tulisan ini saya buat untuk merayakan
hari perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Semoga
tulisan ini sedikit banyak dapat menggugah, setidaknya membuka pandangan kita
akan skema patriarki yang selama ini hidup dalam masyarakat.
Banyak dari kita tentu
pernah mendengar atau bahkan meyakini mitos-mitos atau ‘anggapan klasik’ dari
kasus perkosaan. Katakanlah, perkosaan dilakukan oleh pria yang melihat
perempuan dengan pakaian minim berjalan di tempat yang sepi pada malam hari.
Atau mungkin banyak yang menganggap hubungan seksual yang dilakukan oleh suami
istri tidak mungkin terdapat unsur perkosaan. Benarkah begitu? Benarkan banyak
perempuan diperkosa orang yang tidak dikenal di malam hari? Benarkah perkosaan
tidak mungkin terjadi dalam hubungan suami istri? Tentu diperlukan bukti atau
data untuk menyatakan keabsahan mitos ini.
Berdasarkan data yang
diperoleh oleh Komnas Perempuan, kasus kekerasan seksual di ruang
privat/personal mencapai 70.115 kasus dari 93.960 kasus kekerasan seksual.
Berdasarkan data yang tercatat, kasus kekerasan seksual yang paling banyak
dilaporkan adalah kasus perkosaan yang mencapai 50% dari kasus kekerasan
seksual tercatat. Kasus kekerasan seksual di ruang privat/personal adalah
kekerasan sekual yang dilakukan oleh orang yang dikenal oleh korban, bisa dari
kenalan, teman, keluarga, pacar, dan juga suami. Dari data ini saja, kita dapat
menanpik dua mitos perkosaan, yaitu bahwa perkosaan sangat mungkin dilakukan
oleh orang-orang yang dikenal korban bahkan suami sendiri.
Mungkin menjadi pertanyaan di benak kita bagaimana
mitos-mitos perkosaan masih berada dalam pikiran masyarakat padahal fakta
mengatakan yang sebaliknya?. Para feminis, sosiolog, psikolog, dan ahli
lainnya menyatakan penyebabnya adalah
kentalnya budaya patriarki dalam masyarakat (Brownmiller, 1975; Burt, 1980;
Takwin, 2011). Budaya patriarki adalah budaya yang menganggap bahwa laki-laki
memiliki status yang lebih tinggi dan lebih dominan dari perempuan. dalam sudut
pandang patriarki, perempuan menjadi masyarakat kelas dua – yang kemudian
menjadi judul buku feminis terkenal, Simone de Beauvoir, The Second Sex. Akibatnya, perempuan seringkali menjadi objek
laki-laki laki-laki dalam bidang politik, hukum, sosial, bahkan seksualitas.
Adanya pola pikir ini menyebabkan terinternalisasinya skema bahwa laki-laki
lebih berkuasa dari perempuan. hal ini melatarbelakangi laki-laki memaksakan
kehendaknya dalam hal seksualitas. Ya, perkosaan bukanlah masalah
ketidakmampuan laki-laki untuk mengontrol hasrat seksualnya tetapi karena
adanya keinginan untuk mengontrol dan berkuasa atas pihak lain (Amiruddin,
2011). Motif ini seringkali luput dari pandangan masyarakat yang hanya melihat
perkosaan dengan sebelah mata dan
menyudutkan korban yang dianggap tidak lagi suci (mitos kesucian dan
keperawanan pada perempuan adalah sebuah pembahasan yang panjang yang akan
dibahas di lain waktu).Pandangan yang menyudutkan korban perkosaan membuat
korban berada dalam situasi “sudah jatuh tertimpa tangga” atau dengan kata lain
mengalami kesialan yang bertubi. Belum selesai korban menghadapi permasalahan
pasca-perkosaan – penolakan diri yang tidak lagi suci, trauma, depresi, sakit
fisik akibat perkosaan, perempuan harus dihadapkan dengan sikap negatif yang
diberikan oleh lmasyarakat, penegak hukum, bahkan keluarga sendiri akibat
diyakininya mitos perkosaan.
Kita memang tidak bisa
serta merta menyalahkan masyarakat dengan adanya pola pikir ini karena
masyarakat pun merupakan budaya korban patriarki. Mitos-mitos ini dibentuk oleh
institusi-institusi pimpinan lelaki sehingga tidak dapat memberikan sudut
pandang perempuan dalam menentukan kebijakannya, seperti hukum, budaya, agama,
dan politik. Tak jarang bahkan mitos perkosaan ini dilegitimasi dengan ajaran-ajaran
agama dan teks kitab suci yang diinterpretasikan oleh laki-laki.
Beberapa mitos perkosaan yang beredar di
masyarakat, antara lain:
Perempuan menggugah lelaki untuk
diperkosa
|
Mustahil suami melakukan serangan
seksual kepada istri
|
Sindrom trauma perkosaan adalah
masalah sementara
|
Perempuan menikmati bahkan
menginginkan perkosaan
|
Pemerkosa adalah orang yang mengalami
gangguan jiwa/abnormal
|
Banyak korban perkosaan yang
memalsukan laporan perkosaannya
|
Perkosaan adalah kejahatan seksual
|
Tidak ada orang yang diperkosa jika
orang tersebut tidak menginginkannya
|
Pria tidak bisa diperkosa
|
Perkosaan dilakukan dalam bentuk
perilaku impulsif
|
Perkosaan disebabkan perempuan
menggunakan pakaian minim dan berjalan di tempat sepi pada malam hari
|
Hanya orang-orang tertentu yang
diperkosa. Ini tidak bisa terjadi pada saya
|
(Takwin, 2011)
Melihat mitos-mitos
perkosaan di atas, saya harap kita semua dapat merefleksikan sejauh apa mitos
perkosaan itu berada dalam diri kita. Apakah kita masih akan menerima
mitos-mitos ini dan menjadi pihak-pihak yang menyudutkan korban-korban
perkosaan tanpa melihat konteks dan latar belakang korban?
Selamat hari perempuan Internasional.
Semoga keadilan, kebebasan, kesetaraan bisa diperoleh seluruh masyarakat dunia,
termasuk perempuan.
Daftar Pustaka:
Brownmiller, S. (1975). Against our
will: men, women, and rape. New York: Simon & Schuster.
Burt, M.R. (1980). Cultural myth and
supports for rape. Journal of Personality and Social Psychology, 38, 217 – 230.
Komisi Nasional Perempuan. (2013).
Kekerasan Seksual. Komisi Nasional Perempuan.
Takwin, B. (2011). Membongkar mitos
perkosaan. Jurnal Perempuan, 71, 7 – 17.
Saya ingin perkenalkan kepada saudari semua khususnya yang akan melangsungkan pernikahan. Yaitu sebuah produk yang sangat revolusioner dengan nama selaput dara buatan. Selaput dara buatan ini berfungsi untuk menciptakan sebuah peristiwa yang sangat penting. Peristiwa apakah itu ? yaitu peristiwa terjadinya pendarahan di malam perkawinan anda. Bagaimana mungkin anda bisa kembali berdarah pada saat anda melewati malam pertama perkawinan anda jika anda sudah pernah melewatinya tanpa diawali dengan upacara perkawinan yang semestinya ? atau bisa jadi karena anda pernah mengalami kejadian yang tidak anda sengaja sehingga anda harus kehilangan selaput dara anda. Selaput dara buatan adalah solusi tepat untuk mengantisipasi keadaan tersebut. Diciptakan oleh ahli kesehatan Jepang pada tahun 1993 dan sudah terbukti aman dipergunakan, karena dibuat dari bahan yang mudah larut dan akan hilang bersama dengan cairan yang keluar dari alat kelamin wanita. Mudah digunakan dan tergolong murah jika dibandingkan dengan operasi selaput dara yang selama ini sudah banyak dilakukan oleh dokter kandungan. Apa yang terjadi pada malam pernikahan anda ketika anda sudah memakai Selaput Dara Buatan ini ? Tentunya suami akan mendapati anda adalah sosok wanita yang tepat bagi suami anda. Karena suami anda akan mendapati darah pada alat kelamin anda dan pada alas tempat tidur anda. Bukankah ini adalah sebuah momen yang paling ditunggu-tunggu pada kebanyakan pria ? Tunggu apa lagi. Segera pertimbangkan sekarang juga. Jangan membuat suami tercinta anda kecewa selamanya. Detail produk bisa kirim sms ke nomor 085852087449 atau invite 2A8D426
BalasHapus