Sabtu, 13 Desember 2014

SENYAP: sebuah review dan opini

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film yang berjudul Senyap (The look of silence). Film ini adalah buah karya Josgua Oppenheimer, seorang sutradara dan Antropolog yang sukses melejitkan namanya melalui film JAGAL (The Act of Killing), sebuah film dokumenter tentang preman yang pernah menjadi penjagal pada tragedi berdarah pasca-1965 di Sumatera.

SENYAP, karya kedua Joshua memiliki tema yang kurang lebih sama yaitu perihal kejadian pasca-1965. Namun saya akui kali ini Joshua lebih berani karena tidak hanya bertemu dan berinteraksi dengan penjagal dan korban, tetapi juga mempertemukan mereka sehingga menimbulkan 'luka lama', baik pada korban maupun pelaku. Karya ini bisa dikatakan nekat mengingat selepas JAGAL dirilis dan ditonton banyak orang, Joshua mengalami banyak ancaman sampai sempat tersiar kabar bahwa ia tidak berani datang ke Indonesia karena banyaknya ancaman tersebut, ya nyatanya dia tidak hanya datang bahkan membuat film lagi di Sumatera Utara (Film Jagal dibuat di Medan sementara Senyap di Deli Serdang-Sumatera Utara)

SENYAP menceritakan perjuangan Ade, adik dari Ramli yang dibunuh oleh orang-orang anti-PKI pada masa itu (1965-1968). Ia tinggal di sebuah pondok dengan ibu dan ayah yang sudah tua renta. Ade dilahirkan pada tahun 1968 sehingga tidak sempat bertemu dengan abangnya, namun ia tahu dari keluarganya bahwa abangnya menjadi korban karena bergabung dengan SOBSI (organisasi buruh yang berafiliasi dengan PKI). kabarnya, Ramli yang sudah dihajar mati-matian oleh massa sempat pulang ke rumah dan minta air kepada ibunya akan tetapi paginya, massa menjemput paksa Ramli untuk dibawa ke rumah sakit.

"di masa seperti ini, mana mungkin di bawa ke rumah sakit. pasti dibawa pergi dan dibunuh" demikian kata Ibu Ade saat diwawancarai anaknya.

Benar saja, berdasarkan rekaman Joshua yang mewawancarai pembunuh Ramli, Ramli dibunuh dalam keadaan babak belur, perut terbuka hingga usus terburai, dan kemaluan yang dipotong. Tindakan sadis ini sempat direkonstruksi oleh pembunuh Ramli di pinggir Sungai Ular, tempat pembantaian dilakukan saat itu. Video ini-beserta pengakuan algojo lain yang dengan bangga menyatakan 'prestasi'nya, ditonton oleh Ade. bayangkan, Anda melihat pembunuh saudara Anda bersaksi tentang bagaimana saudara Anda disiksa dan dibunuh sambil tertawa dan berfoto dengan bangga--dengan dalih atas nama pancasila!

Ade tidak hanya diam menyaksikan itu semua. Ia berusaha untuk menelusuri siapa saja orang yang bertanggung jawab dalam kematian kakakknya. Ia sambangi komando aksi yang berperan saat itu, pamannya yang bertugas menjadi penjaga penjara tempat Ramli diringkus, hingga pembunuh yang terang-terangan mengaku telah membunuh Ramli. Ia berdiskusi dengan mereka sebelum akhirnya mengaku bahwa ia adalah adik dari korban pembantaian 1965. Tentu, pengakuan tersebut memperkeruh suasana, membuat sebuah ruang hening, dari dialog penuh kebanggaan dan kesombongan menjadi mencekam entah karena takut dibalaskan dendam, takut aksinya dipublikasikan mengingat kesaksian tersebut direkam, atau merasa bersalah meskipun saya ragu

Dari film ini ada beberapa hal yang saya baru tahu. ternyata berdasarkan kepercayaan orang sana, jika pada masa pembantaian itu para algojo tidak meminum darah orang yang dibantainya, maka orang tersebut akan gila. maka meminum darah manusia banyak dilakukan oleh algojo di masa itu. Sebuah fakta yang mengerikan, jujur saja. betapa 'polos' dan 'naif'nya orang masa itu. mereka juga banyak yang tidak tahu apa jahatnya PKI, apa itu komunis, yang mereka tahu hanya komunis itu berpaham: Istrimu adalah istriku dan tidak ber-Tuhan. (lagi-lagi perempuan menjadi objek, lempar sana-lempar sini. apa ini hanya masalah 'kepemilikan' dan seks? timbul pula pertanyaan semacam ini walaupun perlu pula kita lihat lagi permasalahannya, tentu tidak hanya itu hehe).
 
ya, dangkal pemahamannya namun termakan propaganda! hasilnya pembantaian, pemerkosaan, fitnah, dan pelanggaran hak asasi korban maupun keluarga korban selama bertahun-tahun!

Tentunya film ini membangkitkan banyak ide-ide untuk menganalisa dari sisi psikologi. Bagaimana kesejahteraan dan kesehatan mental pelaku, korban, maupun keluarga korban hingga sekarang mengingat banyak kasus algojo yang menjadi 'gila' pasca pembantaian, apakah korban maupun keluarga korban dapat memaafkan pelaku, apakah kondisi psikologis pemerintah saat ini memungkinkan adanya inisiasi rekonsiliasi terhadap kasus ini. Namun saya rasa, analisa-analisa tersebut dapat kita bahas dalam tulisan lain. saya batasi tulisan ini hanya untuk review film dan kesan saya dengan film karena dibutuhkan kajian literatur yang lebih komprehensif. Mungkin saya bisa kembangkan gagasan saya tersebut dalam tulisan lain atau mungkin ada mahasiswa F.Psikologi lain yang ingin menganalisa film tersebut? ditunggu sekali :)

Poster Film SENYAP. Sumber: antaranews.com